Perhatian: jika tidak ingin salah paham mohon dibaca hingga akhir. Terima kasih.
Di awal kuliah biasanya dosen tidak langsung memulai dengan membahas materi tetapi hanya memperkenalkan silabus serta sumber-sumber bacaan yang diharuskan untuk mahasiswa pelajari sebelum matakuliah berlangsung.
Maka saya setelah jam kelas selesai pergi ke perpustakaan pusat untuk mencari buku-buku apa saja yang disarankan dosen. Cukup kesulitan karena harus mencari buku yang memiliki daftar isi yang sesuai dengan perkuliahan.
Mencari buku yang tepat tidaklah mudah, dan setelah dapat pun kita dibebankan dengan buku-buku yang berat ketika dibawa. Sudah itu belajar dan merangkum dari buku-buku tersebut.
Bagian yang saya keluhkan terjadi di awal perkuliahan senin ini, dimana ketika dosen meminta untuk menjelaskan dari berdasarkan apa yang mahasiswa dapat sebelum kelas berlangsung. Saya pun menjelaskan apa yang saya dapat dari buku yang dosen itu sarankan dan juga dengan topik
perkuliahan yang sama.
Tetapi ternyata buku yang saya dapatkan merupakan buku terbitan tahun 80-an dan itu pembahasannya sudah berbeda dengan tahun sekarang. Contohnya ketika saya menjelaskan bahwa cina adalah negara berkembang sesuai yang tertulis dari buku tersebut.
Saya lupa dan tidak menyadari kalau Cina sudah merupakan negara maju. Disana dosen kebingungan, "bukannya cina itu negara maju ya?".
Sedangkan teman saya, saya perhatikan di kelas tidak ada dari mereka yang membawa buku. Saya pun bertanya sebelum kelas dimulai "Kamu udah dapet buku belum untuk materi nanti?" dengan santainya dia hanya jawab, "aku searching aja semalem. Ketemu kok."
Rasanya di sana hati saya sedih. Saya menyadari hal baru, kalau sekarang kita hidup di jaman yang canggih, serba ada apapun ada di genggaman. Kita tidak perlu bersusah payah untuk mencari katalog buku dimana? di bagian rak nomor berapa? Dimana buku itu tersimpan?
Kita udah nggak butuh itu lagi. Ya inilah era millennial yang saya sadari dan saya rasakan. Karena saya kira belajar itu harus dari buku. Tetapi sebenarnya tidak semuanya harus dari buku. Karena buku juga dibuat selama bertahun-tahun apalagi buku mata kuliah yang memerlukan riset selama bertahun-tahun.
Untuk revisi juga jangka waktunya panjang sekali dan saya baru melihat buku yang saya ambil itu adalah terbitan tahun 1980an. Sudah tidak relevan lagi jika dipakai di masa kini. Memang buku itu penting dan saya masih menghargai buku-buku terutama buku cetak. Tapi yang alangkah baiknya jika kita melihat content isi dari buku itu. Apakah masih bisa untuk diterapkan di zaman sekarang itu harus lebih diperhatikan lagi.
Setelah saya menulis ini saya masih memegang buku sebagai pedoman belajar saya juga disertai dengan internet untuk mencari informasi seluas-luasnya. Lebih disarankan untuk membaca journal daripada membaca buku terutama untuk materi kuliah. (Karena journal lebih up to date, singkat dan padat).
Dan saya tidak pernah bilang kalau yang bersumber dari buku itu tidak tepat. Bukan, bukan begitu. Kesimpulan dari tulisan saya adalah buku memang merupakan referensi yang baik tetapi alangkah baiknya lagi jika kita melihat tahun berapa terbitnya? Apakah materi dan konten yang disampaikan masih relevan untuk kehidupan kita di masa sekarang atau tidak?
Kasus saya tadi menyebutkan, Republik Rakyat Cina (RRC) sebagai negara berkembang untuk tahun 1980an dan dosen saya kebingungan di tahun 2019 ini, karena Cina sudah merupakan negara maju. Apalagi sekarang kita sudah ada internet. Ya boleh aja searching dari internet gitu. Tapi saya masih sangat menghargai buku daripada internet yang sumbernya bisa saja tidak terpercaya tergantung bagaimana kita memanfaatkannya.
.
.
.
Della
Jogya, 9/11

Komentar
Posting Komentar