Fenomena ‘Sok Inggris’ Pada Masyarakat Indonesia
“Pake Bahasa Indonesia yang baik dan benar, dong! Gak cinta Indonesia ya, lu?”“Sok Inggris banget, sih!”.
Sering banget nih kejadian di negara kita, Indonesia tercinta, dari jaman ke jaman, ada aja yang menjadikan orang lain atau temen sendiri yang lagi mengelatih diri dengan ngomong bahasa Inggris malah diejek seperti itu. Kebanyakan dari kita menganggap istilah “Sok Inggris” sebagai bahan ‘candaan’.
Guys, kita harus membuka pikiran dengan menghentikan label “Sok Inggris” ini.
Kenapa?
Karena, satu: merupakan tindakan bullying.
Berdasarkan dari “The Bully, The Bullied, and The Bystander”, sebuah buku yang ditulis oleh Barbara Coloroso, disana dijelaskan jika ada seseorang atau sekelompok yang mengejek atau bahkan mengancam, yang menunjukkan sikap memberikan kendali pada diri target yang dibully sampai membuat si target ini pesimis dan ngerasa gak percaya diri, itu udah masuk ke dalam kekerasan verbal. Jenis lain yang termasuk dalam kekerasan verbal bisa berupa pemberian nama atau julukan tertentu, menghina, menertawakan dengan maksud mengejek, mengintimidasi, komentar bernada rasis, maupun kekerasan verbal lainnya.
Walaupun dampaknya tidak terlihat secara jelas seperti pada kekerasan fisik (memar atau luka) yang bisa pulih dengan pemberian obat, kekerasan verbal lebih terasa dampaknya ke psikologis si koban dan penyembuhannya butuh waktu yang relatif lama. Menurut psikolog, Liza Marielly Djaprie, verbal bullying dapat mepengaruhi citra diri, emosi juga kondisi psikologis seseorang. Intimidasi verbal juga dapat membuat percaya diri seseorang menurun bahkan sampai mengarah pada depresi. Sedangkan di Indonesia sendiri, fenomena ini sudah sangat umum terjadi, bahkan jadi ‘cuma bercanda’ dan ‘jangan baper, dong’ saat ada yang menanggapi dengan serius.
See? It’s not a joke now.
Masih ada fikiran kalau “yaelah gitu doang kok serius banget”?
Mari kita lihat sebuah penelitian yang dilakukan pada Maret tahun 2021. Rahmawati, dkk melakukan penelitian mengenai kolerasi (hubungan) dari bullying dengan kemampuan belajar Bahasa Inggris pada siswa tingkat SMP. Penelitian yang masih hangat ini menemukan hasil bahwa dari 146 siswa yang dijadikan sampel, 51,4% atau sekitar 75 siswa pernah merasakan moderate verbal bullying atau kekerasan verbal tingkat sedang dan 101 siswa atau 69,2% masuk kedalam kategori yang memiliki nilai rendah dalam pelajaran Bahasa Inggris. Dari penelitian ini ditemukan juga kalau yang membuat kebanyakan siswa tidak percaya diri dalam berbicara Bahasa Inggris karena mereka takut salah dan ditertawakan saat mencoba pronounciation (mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Inggris) sama teman-temannya.
Dari sini bisa terlihat kalau ternyata hal yang kita anggap hanya bercandaan bisa mempengaruhi motivasi seseorang buat belajar. Belajar Bahasa Inggris selain dari kemudahan akses dari teknologi dan media yang ada saat ini, pada kenyataannya masih dianggap tidak mudah. Apalagi dalam pengucapan, asli memang enggak gampang!
Kedua, yang membuat saya, sebagai salah satu anak muda yang peduli dengan kemajuan negara Indonesia, merasa khawatir saat melihat Indonesia berada di peringkat ke-5 se-Asia Tenggara atau ke-74 dari 100 negara yang berpartisipasi dalam Indeks Kecakapan Berbahasa Inggris (EPI) versi Education First (EF). Indonesia hanya mendapat EPI sebesar 453 poin, sedangkan EPI Filipina mencapai 562 poin diikuti Malaysia yang mendapatkan 547 poin. Minh N. Tran, Senior Director, Research & Academic Partnership of EF Education First mengatakan bahwa:
“Mereka yang mampu berkompetisi (dalam skala internasional) adalah yang mampu berkomunikasi dengan baik dengan berbagai budaya dan bangsa, serta siap untuk menjadi warga dunia”.
Oke sekarang sudah paham, kan? Kalau kita harus menghentikan atau setidaknya saling mengingatkan untuk tidak bilang ‘Sok Inggris’ kepada siapapun yang menggunakan bahasa Inggris di Indonesia. Selain dapat membuat rendah percaya diri seseorang (tidak semua orang mentalnya kuat ya, guys), lebih jauh dampaknya kalau sudah tidak ada motivasi untuk belajar Bahasa Inggris. Apa yang akan terjadi kalau orang-orang jadi males buat belajar Bahasa Inggris? Negara kita akan tertinggal secara internasional. Kasian kan kalau Indonesia yang dikenal akan keindahan dan kekayaan alam ini masih terbata-bata saat mengahadapi turis yang datang berkunjung.
Terakhir, buat temen-temen yang pernah dibilang ‘sok inggris’, kamu tidak sendiri:
"Gue nggak apa-apa dikata-katain, i don't care. Tapi for kids yang mau belajar, kasihan, bro. You gotta change your mindset. Dont be so bitter about life, my friend. God Bless You”.
_Boy William.
Catatan Kaki :
Coloroso, B. (2007). The Bully, The Bullied, and The Bystander. HarperCollins.
Databox. (2020). Kemampuan Bahasa Inggris Masyarakat Indonesia Berkategori Rendah. Diakses pada 1 Januari 2022 Pukul 13.14 WIB. https://databoks.katadata.co.id/
Education Study Program Sriwijaya University. Thesis Sriwijaya University.
Kumparan. (2017). Menurut Riset Kemampuan Bahasa Inggris Orang Indonesia Masih Rendah. Diakses pada 1 Januari 2022, pukul 12.37 WIB. https://kumparan.com/
Rahmawati, A. (2021). English Achievement and Bullying in Junior High School Students. Journal of English Education and Development.
Valensia, E. (2021). An Investigation of Students Perception of Bullying at The English
Komentar
Posting Komentar